Abstract:
Penelitian ini mengkaji efektivitas penerapan Sistem ABC Card (Safety Card) dalam
meningkatkan budaya keselamatan di kapal AHTS milik perusahaan Smit Lamnalco
Region Kamerun. Industri maritim, khususnya operasi kapal AHTS, memiliki risiko
kecelakaan kerja yang tinggi, dengan faktor manusia sebagai penyebab utama, sehingga
budaya keselamatan yang kuat sangat krusial. Meskipun sistem komunikasi keselamatan
seperti Safety Card terbukti efektif, partisipasi awak kapal dalam penggunaannya masih
rendah, analisis data belum optimal, dan hubungan dengan budaya keselamatan belum
jelas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas Sistem ABC
Card dan menguji pengaruhnya terhadap peningkatan budaya keselamatan kerja di kapal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode observasi terstruktur,
kuesioner berbasis skala Likert yang disebarkan kepada seluruh awak kapal (total
sampling) di lima kapal AHTS, serta dokumentasi perusahaan. Data dianalisis
menggunakan pengolahan skor kuesioner, perhitungan Indeks Efektivitas, serta uji
statistik seperti validitas, reliabilitas, korelasi, dan regresi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Sistem ABC Card sangat efektif dengan
rata-rata persentase 83%, dan budaya keselamatan di kapal juga berada pada kategori
sangat baik (87%). Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara penerapan ABC Card
terhadap budaya keselamatan kapal, dibuktikan dengan koefisien korelasi sebesar 0,867
(korelasi kuat) dan koefisien determinasi 75,2%. Efektivitas ABC Card juga mencapai
87% dan memiliki pengaruh positif terhadap budaya keselamatan dengan koefisien
regresi 0,420 serta signifikansi 0,000. Penerapan sistem ini terbukti mampu menurunkan
kecelakaan kerja hingga 35%, meningkatkan kesadaran bahaya, kepatuhan prosedur, dan
membentuk budaya keselamatan kolektif.
Secara keseluruhan, Sistem ABC Card terbukti merupakan instrumen strategis yang
sangat efektif dalam membangun dan memperkuat budaya keselamatan yang proaktif dan
partisipatif di lingkungan kerja berisiko tinggi seperti kapal AHTS. Implementasi yang
berkelanjutan memerlukan komitmen manajemen, pelatihan, dan integrasi dengan sistem
keselamatan lainnya untuk mencapai peningkatan keselamatan kerja yang optimal.